Jumat, 18 Oktober 2013

Budidaya Gaharu, Satu Pohon Hasilkan Puluhan Juta
Mahalnya harga jual getah dan pohon gaharu saat ini membuat banyak petani Kotabaru mulai tertarik untuk mengembangkan dan membudidayakan pohon gaharu. Selain memiliki harga ekonomis yang tinggi, pohon gaharu juga dapat tumbuh di kawasan hutan tropis. Pengembangan pohon gaharu saat ini tak terlalu banyak dikenal orang. Hanya orang-orang tertentu saja yang sudah mengembangkan dan menanam pohon ini. Padahal, keuntungan dari bisnis pohon gaharu dapat mengubah tingkat kesejahteraan warga hanya dalam waktu beberapa tahun.
Selain dapat tumbuh di kawasan hutan, pohon gaharu juga dapat tumbuh di pekarangan warga. Karena itu sebenarnya warga memiliki banyak kesempatan untuk menanam pohon yang menghasilkan getah wangi ini. Banyaknya getah yang dihasilkan dari pohon gaharu tergantung dari masa tanam dan panen pohon tersebut. Misalnya untuk usia tanam selama 9 sampai 10 tahun, setiap batang pohon mampu menghasilkan sekitar 2 kilogram getah gaharu.
Sementara harga getah gaharu mencapai Rp5-20 juta per kilogram. Harga itu tergantung dari jenis dan kualitas getah gaharu. Untuk getah gaharu yang memiliki kualitas rendah dan berwarna kuning laku dijual Rp5 juta per Kg, sedangkan untuk getah pohon gaharu yang berwarga hitam atau dengan kualitas baik laku dijual Rp15-20 juta per Kg.
Salah seorang petani Kotabaru yang sudah mengembangkan pohon gaharu ini adalah Miran, warga Desa Langkang, Kecamatan Pulau Laut Timur. Menurutnya, untuk menanam pohon gaharu dan menghasilkan banyak getah diperlukan perawatan khusus.
Saat pohon gaharu berumur sekitar 5-8 tahun, pohon yang tumbuh seperti pohon hutan alam itu perlu disuntik dengan obat pemuncul getah. Setiap pohon diperlukan satu ampul dengan harga Rp300 ribu. Miran mengaku, ia sudah menjual sekitar 50 batang pohon gaharu yang masih berumur sekitar 1-3 tahun dengan nilai Rp19 juta. Ia juga telah menanam 500 batang pohon gaharu dengan umur satu tahun lebih dan tinggi sekitar 50 cm.
Karena memiliki sifat tumbuh yang tidak jauh beda dengan tanaman hutan lainnya, setiap hektar lahan dapat ditanam sekitar 500 pohon gaharu dengan jarak tanam sekitar 3-4 kali 6 meter.
Bibit pohon gaharu tersebut ia peroleh dari Samarinda, Kalimantan Timur, yang sebelumnya dikembangkan dari Nusa Tenggara Timur (NTT). Harga bibit dari Rp7.500 sampai Rp10.000 per pohon.
Untuk pemasaran tidak perlu repot, karena banyak pembeli yang siap mendatangi mereka yang memiliki getah gaharu. Pengusaha transportasi itu juga berharap usaha yang ia rintis dapat diikuti masyarakat dan petani lain di Kotabaru. Apalagi bila mengingat masih banyak lahan tidur dibiarkan terbengkalai mubazir.
“Jika lahan tidur di wilayah kita dikembangkan dengan menanam gaharu, maka 10-15 tahun kemudian akan menghasilkan uang ratusan juta,” terang Miran. Sebelumnya, Miran sudah mencoba beberapa tanaman kebun, namun hasilnya tidak seperti menanam pohon gaharu. Dalam satu pohon usia dewasa dapat menghasilkan uang puluhan juta rupiah,

Selain Miran banyak petani lain di Desa Betung, Langkang Lama, Langkang Baru, Gunung Ulin dan Sebelimbingan yang mulai mengembangkan kayu yang biasa diambil getahnya untuk bahan minyak dan bahan obat-obatan tersebut.


BUDIDAYA TANAMAN GAHARU
DENGAN MODEL ROTASI DAN MULTIPLE CROPING
DENGAN TANAMAN SELA
A.   Tujuan.
Tanaman gaharu tidak memerlukan suatu persyaratan tumbuh yang istimewa. Tanaman yang berasal dari hutan tropis ini tumbuh subur di daerah lahan tropis. Saat pohon gaharu berumur sekitar 5-8 tahun, pohon yang tumbuh seperti pohon hutan alam itu perlu disuntik dengan obat pemuncul getah. Panen dengan produksi optimal pada umur 10 tahun.
Selain dapat tumbuh di kawasan hutan, pohon gaharu juga dapat tumbuh di pekarangan warga. Karena itu sebenarnya warga memiliki banyak kesempatan untuk menanam pohon yang menghasilkan getah wangi ini. Beberapa jenis tumbuhan berpotensi untuk memproduksi gaharu sudah dieksplorasi. Jenis tumbuhan itu meliputi Aquilaria spp, Aetoxylon sympetallum, Gyrinops, dan Gonsystylus.
Berbagai jenis tumbuhan itu tersebar di Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Papua. Tetapi, keberadaannya sekarang mulai langka.
Gaharu (Aquilaria Malaccensis)  mulai berproduksi  pada umur  5 tahun yaitu mulai dirangsang dengan dilukai dan diberi zat perangsang tumbuh getah. Budidaya gaharu yang diambil adalah mulai dari kayu, cabang dan paling utama adalah getahnya.
Teknik budi daya gaharu dengan cara penginfeksian jamur pembentuk gaharu ke dalam batang pohon potensial. Isolat jamur penginfeksi atau pembentuk gaharu sudah dieksplorasi Balitbang Kehutanan dengan hasil diperoleh dari genusFusarium dan Cylindrocarpon.
Saat ini diperoleh dari genus Fusarium sebanyak 23 isolat jamur. Empat isolat jamurFusarium paling cepat menginfeksi kayu berpotensi menjadi gaharu
Banyaknya getah yang dihasilkan dari pohon gaharu tergantung dari masa tanam dan panen pohon tersebut. Misalnya untuk usia tanam selama 9 sampai 10 tahun, setiap batang pohon mampu menghasilkan sekitar 2 kilogram Gaharu itu sendiri sebagai hasil persenyawaan enzim jamur tertentu yang menginfeksi kayu jenis tertentu pula. Persenyawaan itu menghasilkan damar wangi yang kemudian dikenal sebagai gaharu.
Kayu yang mengandung damar wangi atau gaharu kategori paling bagus atau kelas super mencapai harga Rp 50 juta per kilogram. Melalui metode penyulingan, gaharu umumnya dimanfaatkan sebagai pewangi.
Selama ini gaharu alam yang paling bagus disebut gaharu super yang berwarna hitam pekat, padat, keras, mengilap, dan beraroma kuat khas gaharu. Gaharu super tidak menampakkan serat kayunya. Bentuknya seperti bongkahan yang di dalamnya tidak berlubang.
”Klasifikasi mutu gaharu ditetapkan ada enam, berturut-turut dari yang paling bagus, yaitu kelas super, tanggung, kacangan, teri, kemedangan, dan cincangan,” kata Sulistyo.
Kelas cincangan merupakan potongan kecil-kecil dari kayu yang terinfeksi menjadi gaharu. Meskipun tidak berwarna kehitaman atau tidak mengandung getah gaharu, kelas cincangan masih menunjukkan aroma khasnya. Biasanya, gaharu ini digunakan untuk pembuatan dupa atau hio.
Dalam proses produksi gaharu buatan, yang sangat penting dikuasai adalah proses pembenihan, persemaian, penanaman, dan pemeliharaan pohon-pohon berpotensi
Melihat adalah hutan- hutan yang dibangun dan dikelola oleh rakyat, kebanyakan berada di atas tanah milik atau tanah adat meskipun ada pula yang berada di atas tanah Negara atau kawasan hutan negara.  Program Hutan Tanaman Rakyat juga menjawab adanya kesenjangan antara peningkatan kesejahteraan gaharu dan memperoleh keuntungan dari pohon yang menghasilkan produk bernilai tinggi.
Ada 3  prinsip penyelenggaraan Tanaman Gaharu, yaitu:
1.   Masyarakat mengorganisasikan dirinya berdasarkan kebutuhan, pembangunan tanaman gaharu  yang berkesinambungan. Pada lahan tersebut dengan memanfaatkan seoptimal mungkin  waktu yang ada dengan sistem  multiple cropping.
2.   Multiple cropping yaitu memanfaatkan lahan sewaktu tanaman utama (gaharu masih kecil) dengan ditanamai kedelai. Fungsi tanaman kedelai selain menghasilkan juga sebagai pengurangai biaya pengendalian gulma, juga menyuburkan tanah.
3.   setelah tahun ke 3, diantara tanaman gaharu dapat dibudidayakan tanaman yang tidak membutuhkan sinar matahari seperti rempah-rempah (jahe, kencur, temulawak, dll)
Sasaran program Tanaman Gaharu dengan Multicroping
Tanaman Gaharu merupakan tanaman elite artinya untuk menghasilkan produk yang diharapkan memerlukan biaya yang sangat mahal. Biaya mahal tersebut karena digunakan teknologi inokulasi yang sampai saat ini masih mahal. Rata-rata biaya per tanaman dapat mencapai antara Rp. 300.000,- sampai Rp 600.000,- per pohon.
Dengan tingginya biaya tersebut maka sasaran program tanaman gaharu adalah:
1.    Jumlah sedikit,  atau di bawah 100 pohon dapat menyatu dengan tanaman pekarangan. Maka sasaran budidaya dapat ke seluruh petani yang ada.
2.    Jika berbentuk kawasan, maka sasaran dapat berupa sekelompok petani. Sehingga biaya yang digunakan dapat ditanggung oleh  pemiliknya dengan demikian dapat membentuk kawasan cukup luas.
3.    Jika dilakukan secara perkebunan khusus, maka diperlukan pengusaha Kawasan hutan produksi yang tidak produktif, tidak dibebani hak/izin, letaknya diutamakan dekat dengan industri hasil hutan dan telah ditetapkan pencadangannnya sebagai lokasi Hutan Tanaman Rakyat atau hutan reboisasi.
4.    Kegiatan yang menjadi sasaran program adalah terwujudnya kawasan hutan Gaharu yang dapat dilakukan sebagai kawasan hutan produktif.
5.    Sebagai tempat atau kawasan percontohan untuk masayarakat sekitar program dalam budidaya tanaman hutan yang produktif.

B.   Model / Pola  Budidaya Tanaman Gaharu  system Rotasi dan Multiple cropping.
Pada kegiatan budidaya tanaman gaharu, dapat dilakukan pada lahan sedikit di pekarangan atau di lahan luas dalam bentuk perkebunan, misalnya: luas antara 8 sampai 15 hektar. Areal tersebut dikelola dengan menanam tanaman hutan yang diharapkan dapat dimanfaatkan untuk produksi yang menjanjikan
Namun selama menunggu waktu sampai produksi, masayrakat perku ada penyangga kebutuhan pangan dan menambah pendapatan selama pertumbuhan tanaman hutan maka diantara tanaman hutan dibudidayakan tanaman pangan yang berfungsi sebagai tanaman sela.
Model atau pola tanam yang direncanakan/ diharapkan adalah pola tanam yang berkesinambungan. Artinya  dalam luasan areal yang diberikan penanaman tanaman gaharu dilakukan secara periodik tertentu, dengan demikian panen tanaman gaharu dapat dilakukan secara periodik juga. Hal tersebut berkelanjutan dari tahun ke tahun sehingga penanaman dan panenan  terus berlangsung.
Model di atas hanya salah satu dari model yang digunakan untuk pengembangan yang berkelanjutan.  Penentuan Model/ Pola tanam budidaya rotary dan multiple cropping:



Beberapa hal yang mempengaruhi untuk budidaya gaharu dengan system rotasin dan multiple cropping ini adalah:
1.    Umur tanaman gaharu yang rencananya di panen
2.    Jarak tanam yang dilakukan  untuk tanaman gaharu.
3.    Luasan lahan yang di olah.

Contoh 1.
Usaha gaharu dalam luasan besar misalnya  120 ha, dengan menanam tanaman gaharu yang dapat dipanen dalam waktu 10 tahun. Dia berkeinginan  menanam setiap tahun maka luas lahan per tahun adalah 120/10 ha atau 12 ha. Model atau Pola tanam yang dibuat adalah
Tahun 1 = 12 ha; tahun 2 = 12 ha, tahun 3 = 12 ha..... tahun 8 = 12 ha. Untuk tahun ke 9 dilakukan panen 12 ha dan  untuk tahun ke 10 tanam 12 ha dan panen 12  ha, dst ...

Dapat digambarkan sebagai berikut:
http://www.biop2000z.com/images/stories/gaharu1.jpgBerdasarkan tabel di atas bahwa penanaman dilakukan setiap tahun sedangkan panen dilakukan setiap tahun mulai tahun ke 10 sampai seterusnya.


A.   Tanaman Sela Sebagai Pendukung Tanaman Hutan
Pada budidaya di tanaman Gaharu selain tanaman utama yaitu tanaman gaharu termasuk tanaman keras, dalam pelaksanaannya dilakukan dengan sistem tumpang sari.
Sebagai tanaman sela untuk tahun pertama, kedua dan ketiga adalah tanaman kacang-kacangan (kacang tanah, kedelai, kacang hijau). Tanaman sela dilakukan pada tanaman hutan semenjak pengolahan sampai pada tanaman hutan berumur 3 tahun setelah tanam. Untuk tanaman sela disarankan tanaman yang mempunyai beberapa kriteria diantaranya:  (a) Tanaman pangan atau hortikultura yang menghasilkan dan berharga. (b) Dapat berdampingan dengan tanaman hutan dalam hal ini sebagai tanaman utama,  Sedangkan pada tahun ke 4 sampaui pada tahun ke 9 dapat dilakukan dengan menanam tanaman rempah (jahe, kencur, temulawak, dll).
Tujuan dari pemberian tanaman sela tersebut adalah:
1.    Memberikan pendapatan bagi masyarakat yang mengelola tanaman tersebut untuk mendapatkan hasil dari tanaman sela selama menunggu hasil panen tanaman gaharu.

2.    Menjaga dan memelihara tanah dari kerusakan..
Dengan menanam di lahan antara tanaman hutan yang masih kecil maka tanah tertutup tanaman sela sehingga dari erosi, kerusakan dan lain-lain dapat ditanggulangi.
3.    Disamping itu, perawatan yang diberikan pada tanaman sela dapat sekaligus merawat tanaman hutan.

Sesuai dengan tujuan penggunaan tanaman sela  tersebut di atas maka tanaman sela dilakukan  minimal 1 kali dalam satu tahun. Dan akan lebih baik jika dilakukan 2 kali dalam satu tahun untuk mengurangi kerusakan lahan akibat tidak digunakan. Namun untuk daerah kering dimungkinkan hanya sekali dalam setahun.

B.   Budidaya Tumpangsari antara Tanaman Gaharu dan Tanaman Kedelai (kacang-kacangan).
1.    Penentuan Model/ pola tanam.
Bedasarkan luas lahan yang digarap dan jenis tanaman maka ditentukan  model / pola tanam yang akan digunakan ( lihat di atas), yang perlu diperhatikan dalam penentuan model / pola tanam adalah:
-       Penentuan komodite yang akan ditanam  (umur), nilai tanaman, tujuan kegunaan.
-       Pembagian luas lahan per tahun (lihat contoh ) untuk menghitung luas lahan).
2.    Persiapan lahan.
Lahan yang digunakan untuk hutan tanaman rakyat bermacam-macam. Ada lahan yang berasal dari semak belukar, tegalan, ladang, hutan skundair, tanah kritis, lahan tidur, dan lain sebagainya. Sebagian besar merupakan lahan yang kurang subur. Sebab pada umumnya lahan yang subur sudah digunakan sebagai lahan pertanian. Untuk mempersiapkan lahan tersebut dilakukan pembersihan (land clearing). Jenis lahan dengan kondisi yang berbeda maka land clearing pun berbeda-beda.
3.    Persiapan sarana dan prasarana Budidaya.
Sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk kegiatan Budidaya Hutan Tanaman Rakyat adalah:
Peralatan:
Peralatan pertanian  disesuaikan dengan obyek lahan yang digarap, baik untuk persiapan maupun peralatan selama perawatan tanaman gaharu dan tanaman pangan sebagai tanaman sela (kedelai)
Bahan:
a)    Bibit tanaman gaharu dan benih tanaman pangan.
Terdapat beberapa bibit yang dipersiapkan dalam budidaya tanaman rakyat yaitu:
-       Bibit tananam gaharu, dalam hal ini tergantung dari tanaman yang dipilih sesuai jenis tanaman. Pilihlah bibit yang sehat, dan mempunyai pertumbuhan lurus, tidak patah dan lain-lain.
-       Benih tanaman sela (kedelai dan rempah-rempah)

b)    Pupuk.
Pada umumnya lahan yang digunakan untuk Hutan Tanaman Rakyat bukan merupakan tanaman subur, namun berasal dari lahan tidur, lahan hutan sekunder, ladang, tegalan, pekarangan, dll.
Untuk itu, perlu adanya cara yang tepat pemberian bahan untuk pembenahan lahan yang dapat meningkatkan kesuburan di lahan.  Sesuai permasalahan tersebut maka penggunaan pupuk hayati Bio P 2000 Z merupakan pemecahan yang tepat untuk memecahkan masalah tersebut. Pupuk lainnya seperti Urea, Phospat, KCl masih diperlukan sebagai bahan unsur hara yang mempunyai kandungan N, P dan K  tersedia cukup banyak.
Karena Hutan Tanaman Rakyat berbentuk budidaya tumpang sari antara tanaman hutan dan tanaman pangan sebagai tanaman sela maka jadwal dan dosisi pemupukan dilakukan pada tanaman sela.
c)    Pestisida
Penggunaan pestisida disesuaikan dengan serangan hama yang ada. Prinsip-prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT) harus diterapkan untuk menjaga keseimbangan dan kelestarian alam.

4.    Teknik Budidaya.
Teknik budidaya yang diuraikan di sini adalah teknik budidaya di  tanaman gaharu dengan sistem tumpang sari dengan tanaman pangan.  Pada tahun  pertama dilakukan penanaman hutan dan penanaman tanaman sela. Sesuai dengan kondisi cuaca di lokasi budidaya tanaman, jika dimungkinkan  sebaiknya tanaman pangan dilakukan 2 kali dalam satu tahun.
a.    Pembibitan Tanaman Gaharu.
Pembibitan tanaman hutan dilakukan oleh para penyedia bibit. Teknik pembibitan tanaman bermacam-macam, pembibitan dengan teknik sederhana sampai pada teknik kultur jaringan. Demikian pula masing-masing tanaman mempunyai teknik pembibitan yang berlainan.

b.    Penanaman Tanaman Gaharu.
Budidaya hutan tanaman rakyat menggunakan sistem tumpang sari. Agar penanaman dapat berhasil dengan baik antara tanaman hutan dan tanaman pangan membutuhkan tanaman pokok yang tertata rapi. Hal ini dapat dilakukan jika jarak tanam tanaman pokok dibuat sama. Untuk mendapatkan jarak tanam yang sama tersebut maka dibantu dengan sistem pengajiran sebelum dilakukan penggalian untuk tempat tanaman hutan ditanam.

Jarak tanam tergantung dari jenis tanaman akan ditanam.
Komodite tanaman hutan yang diusahakan tergantung dari tujuan dan waktu yang akan dipanen. Beberapa tanaman yang dapat dijadikan sebagai tanaman hutan adalah”

c.    Penamanan Tanaman Sela.
Penentuan tanaman sela dipilih berdasarkan beberapa pertimbangan diantaranya: mempunyai pangsa pasar tinggi, sesuai dengan iklim dan ekologi lingkungan, mudah perawatan, dapat menunjang kebutuhan pangan pemiliknya.


d.    Perawatan.
Perawatan tanaman gaharu dalam budidaya pertumbuhan tidak terlalu sulit. Karena perawatan dilakukan seperti tanaman perkebunan lainnya.
Hal yang perlu diperhatikan dalam perawatan gaharu yang paling penting adalah perlakukan untuk menginfeksi gaharu dengan inokulan dengan tujuan agar gaharu mengeluarkan getahnya.

            Teknik Inokulasi Gaharu:
Hal yang paling penting pada budidaya gaharu adalah dapat berproduksi  getah yang banyak dan berkualitas. Untuk memperoleh tersebut perlu dibantu dengan teknik inokulasi pada pohon gaharu tersebut.
            Cara atau teknik inokulasi gaharu adalah sebagai berikut:
a)    Pengadaan isolate: tugas para pemasok isolate.
b)    Produksi inokulan : tugas para pemasok inokulan
c)    Pengadaan alat dan perlengkapan berupa: genset, bor dan mata bor, pipa, air stiril, botol infuse).
d)    Teknik inokulasi: pilih pohon (diameter : 15 up) design lubang bor (spiral bor), tentukan jarak bor, mengebor batang dengan kedalaman 1/3 diameter, masukkan inokulan dan tutup dengan malam. Lakukan proses ini dengan cepat dan stiril.
e)    Observasi : setelah 1 – 2 bulan, amatilah laju infeksi penyakit dengan membuka kulit batang di sekitar lubang pengeboran.
Bila berubah warna dan ada tanda infeksi dan cek telah berbau gaharu maka dapat dinyatakan berhasil.


 Gaharu adalah sejenis kayu yang bentuk dan warnanya sangat khas. Aromanya wangi dan dihasilkan dari pohon atau bagian pohon yang tumbuh secara alami sebagai akibat dari suatu proses infeksi yang terjadi secara alami maupun disengaja pada suatu jenis pohon. Masyarakat awam sering mengaburkan istilah kayu gaharu ini dengan tanaman gaharu.
Budi Daya Tanaman Gaharu
Mengingat tanaman gaharu atau yang sebenarnya adalah tanaman atau pohon penghasil kayu gaharu merupakan komoditi hutan yang mahal harganya, pembudidayaan tanaman gaharu digemari di berbagai tempat. Gaharu ini dihasilkan dari tanaman atau pepohonan yang terinfeksi atau sengaja diinfeksi yang tumbuh di daerah tropis.
Penyebab timbulnya infeksi sehingga dapat menghasilkan gaharu pada tanaman gaharu (tanaman penghasil gaharu) masih harus dilakukan penelitian lebih lanjut. Namun dugaan awal terjadinya gaharu adalah adanya tiga elemen penyebab proses infeksi tersebut, yaitu:
·       luka pada bagian tanaman atau batang pohon yang akan menghasilkan gaharu,
·       proses non-patologi, dan
·       infeksi karena jamur.
Pengelolaan tanaman penghasil gaharu ini sama dengan perawatantanaman jenis lainnya. Tidak diperlukan adanya perawatan khusus karena biasanya setelah tanaman berusia 6 tahun maka tanaman tersebut sudah siap untuk diinokulasi. Pembuatan lubang inokulasi sekitar 1/3 diameter pohon secara spiral dan vertikal yang diatur sedemikian rupa agar pohon tidak retak dan patah.
Perawatan yang diperlukan dan sangat disarankan dalam membudidayakan tanaman gaharu ini adalah pemupukan dengan menggunakan bahan organik. Dengan pemupukan maka pertumbuhan tanaman dapat dioptimalkan dan menghasilkan kualitas batang yang baik. Pemangkasan cabang juga sangat perlu dilakukan untuk memacupertumbuhan pohon sehingga diameter pohon dapat berkembang sesuai yang diinginkan.
Pemanfaatan Gaharu
Gaharu karena memiliki baunya yang harum dan khas biasanya dimanfaatkan untuk bahan dasar pembuatan parfum, pewangi ruangan, dan hio (Pelengkap sembahyang umat beragama Buddha). Selain itu, mahalnya harga jual getah dari pohon gaharu yang hampir mencapai 5 - 20 juta rupiah per kilogram membuat tanaman gaharu ini sangatlah potensial dijadikan tanaman komoditas yang sangat menghasilkan bagi penduduk setempat.
Jenis Getah Gaharu
Ada dua jenis getah gaharu:
·       Getah berwarna kuning, adalah getah dengan kualitas rendah dan biasanya dijual dengan harga 5 juta rupiah per kilogram.
·       Getah berwarna hitam, getah ini kualitasnya tinggi dan langka. Itu semua karena diperlukan perawatan khusus untuk menghasilkan getah berwarna hitam. Biasanya getah kualitasbagus ini dijual dengan harga 15 - 20 juta rupiah.
Kayu Gaharu dan Sarang Walet
Dewasa ini, dengan maraknya usaha sarang walet di perkotaan terutama di daerah kota Banjarmasin, kayu gaharu ikut menjadi naik daun. Ini tak lepas dari kepercayaan penduduk setempat yang mengatakan bahwa bau harum dari kayu gaharu dapat membuat burung walet semakin banyak memasuki sarang “elitnya” di tengah perkotaan. Hal ini turut membuat harga kayu gaharu semakin meningkat tajam.
Kayu gaharu yang dipercaya dapat mengundang burung walet masuk ke sarangnya, ternyata bukan sembarang kayu gaharu. Ada pola-pola tertentu dari urat kayu yang secara alami terbentuk pada bagian batang kayu yang dipilih dan dipercayai sebagai jimat pemanggil walet.
Kepercayaan ini yang ternyata membawa hasil pada sebagian pengusaha (pemilik) sarang burung walet yang membuat harga sepotong kecil kayu gaharu mencapai harga jutaan bahkan miliaran rupiah.
 Peluang Emas dengan menanam Gaharu



gaharu
Indonesia memiliki keanekaragaman sumber daya alam yang sangat melimpah ruah, wilayah hutan tropisnya terluas ketiga di dunia, dengan cadangan minyak, gas alam, tembaga, dan mineral lainnya. Negeri kita ini telah dikaruniai oleh Tuhan Yang Maha Esa dengan limpahan pesona yang sangat elok. Indonesia sangat layak untuk disebut sebagai surga katulistiwa yang ribuan pulaunya membentang dari Sabang sampai Merauke.
Salah satu keanekaragaman sumber daya alam hutan yang dimiliki oleh Indonesia adalah Tanaman Gaharu. “GAHARU” adalah salah satu komuditas hasil hutan bukan kayu (HHBK) komersial yang bemilai jual tinggi. Bentuk produk gaharu merupakan hasil alami dari kawasan hutan berupa cacahan, gumpalan atau bubuk. Selain dalam bentuk bahan mentah berupa serpihan kayu, juga diproses dengan penyulingan yang dapat menghasilkan minyak atsiri gaharu yang juga bemilai jual tinggi. Cairan ekstark ini kabarnya mencapai nilai jual lebih dari USD 30.000 atau Rp. 300.000.000,-/liter. Sementara harga I batang pohonnya bisa mencapai ribu-an dollar per kilo nya. Gaharu banyak digunakan sebagai bahan farfum, obat-obatan dan bahan dupa.
Kebutuhan gaharu dunia sangat besar. Quota Indonesia 300 ton/pertahun baru dapat dipenuhi 10% inipun lebih banyak didapatkan dengan cara ilegal dan ini berasal dari Gaharu alam. Temuan rekayasa produksi kayu gaharu memberi peluang yang sangat besar bagi perkebunan di Indonesia. dan keuntungan lainnya Mempertimbangkan nilai jual Gaharu, patut diupayakan peningkatan peranan Gaharu sebagai komunitas andalan altematif untuk penyumbang devisa dari sektor kehutanan selain dad produk hasii hutan kayu.
Selain itu hasil gaharu ini merupakan komoditas Ekspor di negara-negara Asia Timur dan Timur Tengah dalam hal ini maka dengan meningkatkan produksi gaharu berarti akan dapat meningkatkan daya saing bangsa. Dampak lain adalah peningkatan kesejahteraan rakyat dan kelestarian sumber daya hutan dan lahan.
.
Cara Berbudidaya Tanaman Gaharu
Untuk bisa segera dipanen, Gaharu disuntik cendawan, tujuannya agar gaharu mati dan gubal yang harum segera muncul. Batang gaharu Aquilaria malaccensis yang telah berumur minimal 5 tahun dibor secara spiral. Artinya, setiap ujung bidang gergaji pertama akan bersambungan dengan bidang gergaji kedua. Begitu selanjutnya. Bidang gergajian itulah yang diberi cendawan.
Setahun pasca penyuntikkan gubal sudah dapat dituai. Teknik sebelumnya, antar bidang gergaji tidak saling berhubungan. Interval antar bidang sekitar 10 cm dan perlu 2-3 tahun menuai gubal. Modifikasi teknologi pemberian cendawan itu dikembangkan oleh Drs Yana Sumarna MSi, periset Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam, Bogor. Ia memberikan cendawan Fusarium spp pada setiap batang gaharu. Setahun berselang, ia bisa memanen 10 kg gubal gaharu dari pohon umur 6 tahun. Cara ini lebih efektif dibandingkan teknik lama lantaran teknik spiral mampu menahan pohon tetap berdiri kokoh walau ditiup angin kencang.
Untuk memulainya, siapkan alat yang diperlukan: bor kayu dengan mata bor berdiameter 13 mm untuk melubangi batang, gergaji, spidol sebagai penanda tempat pelubangan, alat ukur, kapas, spatula, pinset, alkohol 70%, lilin lunak dan bibit gubal berupa cendawan. Proses pengerjaannya sederhana, dengan tahap-tahap sebagai berikut :
1. Siapkan inokulan berupa cendawan untuk membantu proses terbentuknya gubal. Beberapa contoh cendawan padat adalah Diplodia sp, Phytium sp, Fusarium sp, Aspergillus sp, Lasiodiplodia sp, Libertela sp, Trichoderma sp, Scytalidium sp, dan Thielaviopsis sp. Cendawan itu diperbanyak dengan mencampur satu sendok cendawan dan 100 gram limbah serbuk kayu gaharu. Simpan satu bulan di botol tertutup rapat.
2. Buat tanda di lapisan kulit pohon berdiameter 10 cm dengan spidol untuk menentukan bidang pengeboran. Titik pengeboran terbawah, 20 cm dari permukaan tanah. Buat lagi titik pengeboran di atasnya dengan menggeser ke arah horizontal sejau 10 cm dan ke vertikal 10 cm. Dengan cara sama buatlah beberapa titik berikutnya hingga setelah dihubungkan membentuk garis spiral.
3. Gunakan genset untuk menggerakkan mata bor. Buat lubang sedalam 1/3 diameter batang mengikuti garis spiral bidang pengeboran.
4. Bersihkan lubang bor dengan kapas yang dibasuh alkohol 70% untuk mencegah infeksi mikroba lain.
5. Masukkan cendawan ke dalam lubang dengan menggunakan sudip. Pengisian dilakukan hingga memenuhi lubang sampai permukaan kulit.
6. Tutup lubang yang telah diisi penuh cendawan dengan lilin agar tak ada kontaminan. Untuk mencegah air merembes, permukaan lilin juga ditutup plester plastik.
7. Cek keberhasilan penyuntikan setelah satu bulan. Buka plester dan lilin. Inokulasi cendawan sukses jika batang berwarna hitam. Setelah itu buat sayatan ke atas agar kulit bawah terkelupas. Ini memudahkan untuk membuka dan menutup saat pengecekan selanjutnya.
8 . Satu tahun kemudian gaharu dipanen. Untuk meningkatkan keberhasilan, pekebun menambahkan senyawa pemicu stres. Dengan begitu daya tahan gaharu melemah, cendawan mudah berkembang biak, dan gubal pun lebih cepat terbentuk.
Analisa Bisnis Budidaya Gaharu
Analisa biaya dan keuntungan dari budidaya pohon penghasil gaharu, pada luasan tanah 2.000 m2 (140 ubin), jangka waktu 10 tahun. Dengan jarak tanam 3 X 4 luas tanah 2.000 m2 (asumsi 50 m X 40m) cukup ideal ditanami gaharu sebanyak 180 batang. Berikut ini adalah perincian biaya dan keuntungan dari budidaya pohon penghasil gaharu:
1. Biaya
Biaya sendiri kita bedakan menjadi 3 yaitu: biaya tahap 1 (pengadaan bibit,penanaman dan perawatan di tahun pertama), biaya tahap 2 (perawatan tanaman pada tahun ke-2 sampai tahun ke-7), dan biaya tahap 3 (inokulasi dan perawatan pasca inokulasi tahun ke-8 sampai tahun ke-10).
a. Biaya tahap 1:
- pembelian bibit 180btng @ Rp.25.000 = Rp. 4.500.000
- pupuk kandang 500kg @ Rp.250 = Rp. 125.000
- pestisida (furadan,stiko,dll = Rp. 150.000
- tenaga penanaman = Rp. 50.000
- tenaga perawatan = Rp. 300.000
JUMLAH = Rp. 5.125.000
b. Biaya tahap 2:
- pupuk kandang = Rp. 750.000
- pupuk pabrik = Rp. 1.000.000
- pestisida = Rp. 900.000
- tenaga perawatan = Rp. 1.800.000
JUMLAH = Rp. 4.450.000
c. Biaya tahap 3:
- pembelian fusarium sp 180 botol @Rp.100.000= Rp. 18.000.000
- tenaga inokulan = Rp. 36.000.000
- tenaga perawatan = Rp. 1.000.000
- tenaga panen = Rp. 10.000.000
JUMLAH = Rp. 65.000.000
Jumlah a+b+c = Rp. 74.575.000
2. Penerimaan
Dengan asumsi bahwa tingkat keberhasilan inokulasi adalah 75% saja, dari 180 batang tanaman cuma menghasilkan 135 batang pohon saja yang bisa dipanen. Satu batang pohon gaharu dengan masa inokulasi 3 tahun menghasilkan rata-rata 2 kg gubal, 10 kg kemedangan, dan 20 kg abu. Sehingga total yang dihasilkan dari 135 batang adalah 270 kg gubal, 1.350 kg kemedangan, dan 2.700 kg abu.
a. gubal 270 kg @ Rp.7.000.000 = Rp.1.890.000.000
b. kemedangan 1.350 kg @ Rp.2.000.000 = Rp.2.700.000.000
c. abu 2.700 kg @ Rp.200.000 = Rp. 540.000.000
Jumlah = Rp.5.130.000.000
3. Keuntungan
Penerimaan – Biaya = Rp.5.130.000.000 – Rp. 74.575.000 = Rp.5.055.425.000
Rata-rata perpohon gaharu umur 7 tahun dengn masa inokulasi 3 tahun (tahun ke-8 sampai tahun ke-10), menghasilkan 25 juta rupiah lebih.
Jadi, dari investasi sebanyak 74 jutaan, berpotensi menghasilkan 5 milyar rupiah dalam kurun waktu 10 tahun. Seiring waktu, harga jual tanah juga meningkat. Tidak ada ruginya kan investasi di kebun?